Oleh: raudhah1708 | Juni 19, 2008

Rekah Cahaya di Puncak Senja

berikut ini adalah satu dari puluhan karya santri/wati ponpes Ar-Raudhatul Hasanah. Selamat Menikmati…….Semoga dapat mengambil Hikmah dan pelajaran dari cerita ini

REKAH CAHAYA DI PUNCAK SENJA

By. Mushallina fiany
Pemenang I
Lomba penulisan Cerpen Peringatan 25 Tahun Raudhatul Hasanah

Azura, anak panti asuhan yang identitas orang tuanya tidak pernah diketahui. Berkenalan dengan Muhammad Ra`is Ath-Thariq, yang biasa dipanggil Ari, ketika ari mengadakan wawancara ke panti asuhan miliknya. Perkenalan yang tidak pernah diduga.
Azura anak aneh. Dia dijuluki Ari sebagai Barbie Pentium 1. itu semua karena sifat balitanya masih menempel lekat di dirinya saat usianya berumur 10 tahun.
Azura juga, yang belum tamat SD itu sangat ogah memanggil Ari dengan sebutan Kak Ari, walaupun Ari sudah kuliah. Itu karena alasan usia.
Ari yang baru pulang dari Bali karena ada urusan jurnalistik. Ketika pulang, dia menyiapkan sesuatu untuk kado ulang tahun Azura, yang telah lewat lima bulan. Tapi, dia terkejut mendengar kabar, bahwa Azura masuk ICU ,penyakit jantungnya kambuh.
Nyawa Azura tak terselamatkan. Ari kehilangan berat. Di makamnya, Ari mengulang kenangan bersama Azura, adik panti kesayangannya.
Azura memang bukan adik kandungnya, namun rasa perhatiannya tak ubahnya kepada adik kandungnya.

* * *

kugerakkan pena ini, penuh sesal……..

Medan, 22 Maret 2008
Assalamualaikum wr.wb………
Apa kabar dik Azura? Ari doakan kamu kan baik-baik disana, amiin…! Maaf, Ari baru bisa hubungi Azura saat ini. Mungkin sudah lewat, tapi Ari harap tidak akan pernah basi, karena ini bukan makanan (he…he…he) ! Mungkin sudah lima bulan berlalu (maaf…sejak awal November Ari mengikuti kursus jurnalistik di Bali. Baru dua hari yang lalu Ari kembali berada di Medan).
Azura…”Happy Brithday”, ya..? Selamat Ulang Tahun yang ke-10. Ari tahu, seharusnya Ari ucapkan ini tanggal 18 November yang lalu. Namun apa daya, kita beda tempat. Kita jauh, tak memungkinkan bila ingin ku kirimkan lewat pos, apalagi sekedar menelpon. Jadwalku padat.
Ok, adikku yang manis ini sekarang sudah besar, bukan lagi anak-anak. Jangan bikin bandel-bandel yang baru lagi, ya?
365 hari yang lalu, 22 Maret 2007…saat kamu merengek-rengek minta pindah kamar, kamu bilang kamar lamamu pengap, bau dan panas. Tapi, ibu asrama tidak memberi izin, sampai kamu keliling asrama sambil kalungi pamplet, “AKU BUTUH KEBEBASAN”! he…he…he…ingat kan? Ayo, putar ulang memory itu, Azura-ku!!!
Sorry, kalau selama ini Ari sering panggil Azura, “ Barbie Pentium 1”. he …he…he…Ari bilang itu, semoga saja Azura mau berubah…! Memang Azura bukanlah Barbie Pantium 1. tapi, coba deh untuk berusaha lebih maju dan terdepan dibanding tahun-tahun kemarin. Kamu sembilan tahun, tapi masih makan tumpah berceceran, masih ngompol, masih manja dan tidur perlu didongengin.
Ari sudah anggap Azura seperti adik sendiri. Ga` ada salahnya kan…Kalau Ari pengen Azura berubah untuk menjadi lebih baik? Ari mau menjadi orang yang berjasa bagi orang banyak, hanya pahlawan tanpa pamrih. Walau hanya lewat sepotong doa dan nasihat. Kalau memang Azura merasa menjadi sahabat Ari, tolong bantu Ari untuk mewujudkan cita-cita Ari itu. Berubah…ya, untuk menjadi lebih baik.
Sorry, saat 18 November 2007 yang lau Ari tak bisa datamg untuk merayakan kebahagiaan Azura bersama teman-reman yang lain, meski Cuma sekedar menelpon untuk mengucapkan selamat. Bukan karena apa-apa!!! Waktu Ari sungguh padat oleh kegiatan-kegiatan Jurnalistik.
Azura…masih ingat, waktu pertama kita bertemu? Kamu yang kecebur kekolam, dinasihati Bu Hani hAbis-hAbisan saat Ari baru memasuki halaman depan panti asuhan! Kamu nangis sesenggukan sambil memelas penuh permintaan maaf kepada Bu Hani, membuatku tertawa. Kamu telah memiliki kesan lebih untuk yang pertama kali. Aku yang saat itu ada tugas wawancara dipanti asuhan itu cukup merasa enjoy ( setelah sebelumnya aku sempat kaku) dengan melihat lucunya keluguanmu..
Masih ingat, waktu kita nonton bola bareng di ruang Bu Hani ? Ari lebih membela grubChealsea dan kamu memilih rivalnya, Manchester United. Saat itu, Liga Premier itu lebih memihak Chealse sebagai pemenang setelah tangguh dengan skor 2-1. Aku sepontan cekikikan melihat kamu tersedak dengan es krim “Wall`s Vinetta” yang kita beli sebelumnya. Kamu malu, klub yang kamu bela mati-matian itu ternyata bertekuk lutut. Ha…ha…ha…Ari harap, itu tak azura lupakan.
Masih ingat,sewaktu kita buka puasa bareng? Kamu bolak-balik masuk toilet setelah menghAbiskan dua gelas besar jus mangga. Kamu mencret. Ha…ha…ha…terus, kamu terkurung di kamar mandi itu. Meraung-raung. Kasihan deh !
Sebagai teman ngobrol, teman curhat, teman motivator waktu susah, inspirasi di karya-karya Ari, tempat canda, pengganti adikku, teman bertengkar, juga sebagai sahabat. Azura itu multifungsi di hidup Ari. Kamu memang belum lulus SD, sedangkan aku sudah kuliah sambil kerja. Umur kita berpatokan sangat jauh. Tapi, Ari cukup merasa nyaman bermain dengan Azura
Ari minta maaf atas semua salah Ari selama ini. Baik itu tersadar dan disengaja, maupun yang tak tersadar dan tidak disengaja. Betapa pernha acuhnya Ari saat Azura sakit dengan alasan lagi banyak tugas. Betapa kasarnya Ari saat menyuruh Azura pergi karena Azura mengganggu Ari yang sedang mengetik di depan komputer. Batepa angkuhnya Ari saat menolak membelikan es krim “Wall`s Vinetta” kesukaanmu dan boneka “Spongebob”, tokoh kartun kesayanganmu. Tapi inilah Ari! Muhammad Rais Ath-Thariq ! punya kekurangan yang kebih dan punya kelebihan yang kurang. Susah, Ra…mengubah pribadi yang telah terbentuk. Tapi, seoptimas mungkin…Ari akan mengubah keburukan-keburukan dan kebiasaan-kebiasaan jelek yang sering Ari perbuat. Ari akan berusaha juga untuk menjadi lebih baik. Doakan Ari, ya…Ra?!!
Terima kasih atas semua dari Azura untuk Ari. Juga maaf atas semua salah Ari kepada Azura. Karena apapun dan bagaimanapun keadaannya, Ari tetaplah manusia biasa.
Enak ya…ulang tahun, tahun ini dirayakan !!! Dan pastinya, Azura akan menjalani hidup yang lebih baru di tahun yang baru ini.
Azura sudah besarkan ?Dunia itu luas, Azura Nisa-ku! Tak Ada ujungnya! Masih banyak yang perlu unutk lebih dibenahi! Masih banyak yang bisa menjadi motivasi bagi Azura dalam menggapai sukses. Ilmu itu tak sampai SD saja, Ilmu itu juga gak mesti dari sekolah! Kalau kita itu tipe orang yang ingin tahu, segala yang ada disekitar kita itu bisa jadi ilmu dan yang tak berguna-pun bisa kita “sulap” jadi berguna.
Aku harap surat dan boneka “Sponge Bob” yang kau terima ini, bisa menggantikan rasa kecewamu padaku.

Wassalam,
Muhammad Rais Ath-Thariq

Ku lipat surat itu dan kumasukkan dalam amplop merah muda. Tak sabar aku ingin segera menemui Azura.

* * *

“Azura ada di rumah sakit, Ri…! Semalam dia mengeluh jantungnya nyeri.” Ujar Bu Hani, ibu asrama Azura. “ Kalau kamu mau, kita pergi bareng sekarang.”
Perasaanku tidak karuan selama dalam perjalanan. Amplop merah muda dan sebuah kado untuk Azura masih tergenggam erat dalam kedua telapak tanganku. Pipiku basah oleh air mata.
Kami tiba di rumah sakit. Bu Hani langsung menyusuri koridor ke arah ICU (Intensive Care Unit). Aku ikut menyaingi langkahnya. Hingga kami akhirnya tiba didepan ruang ICU. Aku tahan air mataku.
Kami masuk, kulihat Azura tidak sadar. Belasan infus terhubung ke tubuhnya yang semakin lemah. Disampingnya, alat pengukur detak jantung menunjukkan informasi yang membuatku semakin kehilangan nyali. Detak jantung Azura lemah.
Hatiku menagis, ingin kuberteriak,”Azura, kenapa mesti “Ra” yang menanggung ini? Kenapa bukan Ari? Tolong Ra…kuatkan jasadmu!” Surat dan Kado yang kugenggam, terjatuh seketika. Aku bingung.
Dokter bilang, yang terpenting saat ini hanya doa. Kesempatan hidup bagi Azura, 50.50!!! Dia memang punya masalah dengan jantungnya sejak kecil. Begitu yang aku tahu dari pengurus panti asuhan ini. Mulutku tak henti untuk menjasakan do`a paling tulus untuknya.
Ku lihat arlojiku pukul 13.40…
Hatiku sedang tak karuan, cemas, bingung, entahlah tiba-tiba aku menjadi manusia paling diam sedunia. Tak banyak komentar. Dari tadi pagi aku menunggui Azura. Dia belum sadar. Katiku semakin gerimis.
Ku Calling Bu Hani. Dia berjanji akan datang setelah selesai mengurus anak-anak panti.
Kembali kuperhatikan alat disebelah Azura, lemah. Lemah detak jantungnya, lemah, semakin melemah. Kupanggil dokter, dokter bilang kesempatan Azura hidup semakin kecil.
Kuambil Wud`hu, shalat dua rakaat. Kupanjatkan doa untuk kesembuhan Azura. Azura kulihat bergerak, meski lemah. Dia tersenyum memanggil namaku. Kupeluk erat jasadnya. Dingin, namun aku tek berfirasat apapun tentangnya.
Kuteringat amplop merah jambu dan sebuah kado yang ingin kupersembahkan buat Azura. Kusadar, kondisinya yang lemah tak memungkinkan baginya untuk membaca surat dalam amplop itu. Akhirnya kubacakan surat dalam amplop itu. Selesai kubacakan, kulihat pipi Azura basah oleh butiran-butiran air matanya. Sembab, kulanjutkan membuka kado yang kubeli untuknya. Boneka Sponge Bob. Dia tersenyum girang padaku, meski lemah. Robek hatiku melihat kondisinya yang begitu lemah.
Dia berbisik padaku, dia ingin kunyanyikan lagu ummi dari lisanku untuknya. Lagu ummi yang dinyanyikan oles Sulia itu adalah lagu kesayangannya. Dan lagi-lagi, kulihat dia menangis.
Namun, tiba-tiba dia diam…matanya tertutup, mulutnya mengucapkan kalimat-kalimat Allah dalam suara yang begitu semakin melemah. Aku jadi linglung.
Kulirik ke alat sebelah Azura. Datar .
“Tidak!Azura tolong!kuatkan jasadmu!
Tiada jawaban. Dia pergi, dengan menyunggingkan sebuah senyuman.
“Innalillahi wa inna ilaihi raaji`un..”
kulihat alrojiku menunjukkan pukul 15.00. seketika itu Bu Hani bersama beberapa ibu asrama lainnya memasuki ruang Azura. Bu Hani menangis setelah mengerti keadaaan Azura.
Aku memang bukan siapa-siapa bagi Azura. Tetapi rasa perhatianku padanya tak ubahnya seperti perhatian seorang kakak terhadap adiknya. Adikku meninggal ketika sebuah kecelakaan menimpanya. Ibukupun meninggal, karena saat itu menemani adikku. Kini aku tinggal bersama ayah.
Azura dibawa pulang. Dia segera dimandikan, dishalatkan dan juga dipersiapkan untuk dimakamkan karena hari semakin berubah dan beranjak sore.
Azura dimakamkan. Semua menangis penuh haru. Azura yang dulu adalah seorang gadis periang, kini telah pergi menyatu pada tanah. Selesai do`a, para pelawat pulang. Aku tak mau bergerak. Bu Hani merayuku tuk ikut pulang, namun kutolak pelan. Akhirnya, Bu Hani yang mengerti posisiku, juga ikut pulang. Tinggal kusendiri disitu.
Hening, hari semakin senja. Angin sore itu bertiup merayu-rayu setiap sukma. Beberapa helai bunga kemboja luruh dan berhenti di tanah.
Air mataku masih berjaTuhan. Makin membasahi tanah merah yang basah ini. Kupegang erat dan kukecup nisan Azura Nisa-ku. Memoriku tentangnya terasa terulang kembali.
Pertemuanku dengannya hingga menghasilkan kedekatan yang sungguh luar biasa, telah mengajarkanku akan banyak hal.
Aku kehilangan adik perempuanku tercinta. Dan aku tak pernah menyangka akan kenal dan dekat dengan Azura. Azura mampu membuang rasa sedihku, dengan sifat lugu dan kelucuannya. Walau kutahu, dia tidak akan menggantikan posisi adik kandungku. Namun, kini sosoknya juga menyusul pergi. Kehilanganku sangat berat. Ku tetap harus menerimanya, apapun keadaannya.
Ku kembali terkenang dengannya, dia yang belum lulus SD tidak mau dan sangat ogah untuk memanggilku yang sekarang sedang kuliah dengan sebutan “kak Ari”. Dia merasa cukup hanya memanggilku “Ari”, karena katanya aku ini masih terlalu muda untuk dituakan. “ Duh…, Azura tahu kalau ga` panggil “kak Ari” namanya ga` sopan! Ari itu masih muda. Jadi, malas ah…panggil-panggil Ari pakai kakak-kakak segala!”. Itulah celotehan Azura saat ditegur Bu Hani. Aku hanya tersenyum kecil saja dengan kepolosannya. Dan kebiasaannya tidak pernah berubah.
Hari masih tampak senja saat ku belum berfikir untuk bergerak pergi. Azura rajin shalat lima waktu dan disetiap ujung shalatnya kuperhatikan dia membaca do`a kebahagiaan dunia dan akhirat serta do`a untuk kedua orang tua. Kami kira hingga saat ini dia belum dan tidak tahu siapa orang tuanya. Yang dia kenal hanyalah kami, pengurus panti dan teman-teman senasibnya. Kami temukan dia ketika dia berumur dua bulan dan dalam kondisi kehujanan di teras panti. Kami tidak menemukan identitas apapun padanya, kecuali sehelai sarung yang menyelimuti tubuh mungilnya. Air mataku menetes, tak dapat kutahan lagi setelah mendengar penjelasan Bu Hani tentang Azura.
Azura pernah kutanyai sesuatu. “ Ra, gimana… ya, kalau Ari pacaran?”
Aku takjub dengan jawabannya yang kuyakin langsung dari hatinya, bukan dikarang-karang. “ Ha? Ari mau pacaran? Sudah besar, sudah hampir kakek-kakek, belum tahu juga! Kata Bu Hani, pacaran itu dosa, bisa masuk neraka. Rara gak setuju Ari pacaran! Nanti gak ada lagi yang belikan es krim “Wall`s Vinetta” untuk Rara. Gak ada lagi yang nemeni Rara nonton “Spongebob Squarepants”. Kan nanti Ari sudah sering sama pacar Ari. Pokokknya Rara gak suka. Nanti Rara gak diperhatikan lagi. Ari juga nanti bakal dosa. YANG PENTING, RARA GA` MAU. Ingat umur dong Ri! Kenapa gak sekalian aja kamu nikah sana!?.” Darahku mendesir hebat. Lisan Rara kah itu, atau bisikan dari malaikat-malaikat yang mendampinginya? “Jangan lihat-lihat Rara lagi kesini kalau Ari berani pacaran.” Sejak saat itu aku menyimpan prinsipnya dalam-dalam, walau dia kuanggap lebih dari adik panti, yang diasuh oleh Bu Hani, bibiku.
Aku kembali menangis. Niatku sebenarnya ingin memberitahukan tentang hal terindah dalam hidupku. Seminggu lagi aku akan melangsungkan prosesi akad nikah dengan seorang muslimah satu universitas denganku, dan tentunya tanpa proses pacaran.
Ah…Azura! Begitu cepat kau pergi. Namun, aku tetap bahagia dan bangga bisa kenal denganmu dan mengangapmu sebagai adik, walau tidak sebagai adik kandung.
Ah…Azura! Belum sempat ku lihat tawa candamu melengkapi kebahagianku menyambut hari baru di minggu depan. Di rumahku, akan kukenalkan kau pada Nafisa Aldiza, calon kakakmu.
Azura…terima kasih atas semua.
Hari berada di puncak senja. Semakin hening. Semakin gelap. Semakin lembut kurasa semelir bayu menyapa dan menyentuh relung dan ruang kosong disetiap sudut sukmaku.
Aku tau, kau kini telah tiada. Namun, itu jasadmu. Kuyakin jiwamu kini telah sangat tenang. Kutetap memohon, ini undangan dari qalbuku yang paling dalam. Mungkin ini juga undangan terindah unutkmu. Kau datanglah kearahku. Doakanlah aku dan sapalah aku, walau dari mimpi, kumohon. Azura…
Hari benar-benar berada dipuncak senja. Kembali kukecup nisan yang tertanam rapi di tengah tanah merah basah ini. Atas nama Azura Nisa, selamat jalan. Cahayamu merekah indah terbang keangkasa diiiring-iringi puncak senja…

Wassalam,Raudhah April 2008.


Tanggapan

  1. SYEKH , CERPENKU GAK KO LETAK ?PADAHAL DAH SUSAH SUSAH LO JUARA2. he he he he he he he he he 100000 kali

  2. ya, sabar aja nanti aku muat.

  3. bro met berjuang di masyarakat ya kmi blue`s 09 ngedukung u all
    met berjuang good luck
    wass…

  4. syukron ya blue’s 09, akhi juga do’a in kalian supaya jadi alumni yang khusnul khatimah.

  5. Softwere CDR X#-nya sama ana ya….gak dijawab selama tiga hari mulai di pstng…..deal tuk an softwerenya…jngan lp/

  6. ana mo nanya siapa yg ngurus webblog ini ,pa ust.anwar kalo iya kirim salam aja madia ya ,soalnya bagus banget.two thumbs up for you.

  7. assalamualaikum sobat…
    kabar alumni kita gimn sehat semua kan
    sering sering naruk cerpen ya soalnya keren bnget.
    sobat.. angkatan 09 yang mau ke jogja sapa ja..?
    bisa cari informasi gak

  8. numpang nanya ?
    sekarang tanggal brapa ya…?


Beri tanggapan

Your response:

Kategori